E-Sports Game Online Tapi Bukan Olahraga Online

E-Sports Game Online Tapi Bukan Olahraga Online, Mendengar E-Sports Pasti Kita Akan Mendefinisikan Sebagai Electronic Sports (Olahraga Online), Tapi Apa Sih Sebenernya E-Sport Itu Sendiri? Berikut Ini Raftel Cybernet Akan Menjelaskan Definisi Dari E-Sports Itu Sendiri.

Mengenal E-Sports di Indonesia?

Jakarta 31 Juli 2017 – Perkembangan internet di Indonesia maupun di dunia saat ini bertumbuh sangat pesat. Sekarang hampir disetiap daerah yang kita kunjungi minimal ada yang menyediakan internet, baik itu Warnet, WiFi dan yang lainnya. Tidak heran mengapa akhirnya kita semua sangat bergantung pada Internet. Internet menyediakan berbagai informasi, bisa untuk mencari data, berkirim pesan, surat ataupun berkomunikasi. Semua hal tersebut terasa lebih mudah, dan hampir setiap hari kita bersentuhan dengan internet.

E-Sports Game Online Tapi Bukan Olahraga Online

Warnet Bekasi – Melihat hal ini industri kreatif game pun memanfaatkannya dengan menciptakan game-game yang bisa dimainkan dari berbagai tempat tidak hanya oleh kita sendiri, kita juga bisa berinteraksi dan tersambung dengan orang lain, baik lewat PC maupun Smartphone asalkan kita punya jaringan internet. Nah Game yang bisa tersambung inilah yang kita sebut Game Online. Tidak sedikit game-game yang ada kita jadikan sebagai tempat persaingan, bisa bersaing skor, level ataupun yang lainnya. Game online juga sama, ada ajang kompetisi dalam negeri bahkan sampai luar negeri yang sekarang ini disebut sebagai E-Sports (Electronic Sports)

E-Sports sendiri sekarang ini telah diakui sebagai sebuah olahraga dibeberapa Negara seperti Korea Selatan, Amerika, Indonesia dan Negara-negara di Eropa. Para gamers yang berprestasi akan diakui Negara sebagai Atlet Profesional. Di Indonesia secara khusus E-Sports mulai diakui sejak tanggal 24 Juni 2014 kemarin, dimana E-Sports akan ada dibawah institusi FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia). FORMI sendiri adalah Institusi resmi dibawah KEMENPORA. Asosiasi resmi E-Sports Indonesia dinamakan IeSPA (Indonesian e-Sports Association). IeSPA sendiri telah diakui oleh IeSF asosiasi E-Sports dari luar negeri.

Sebagai Negara pertama yang mendukung E-Sports, Korea Selatan tentu saja sangat pesat perkembangannya dibandingkan Negara lain, sampai-sampai adanya sekolah game online di Korea Selatan tepatnya di Universitas Chung-Ang yang mulai menerima Gamers beprestasi di Universitas mereka dan memasukkannya kedalam bagian Olahraga. mungkin tidak ya di Indonesia dibuat sekolah gaming seperti ini?

Melihat adanya E-Sports, terbayang tidak bahwa Game Online menjadi olahraga bahkan bisa mengharumkan nama bangsa? Olahraga yang dipegang oleh E-Sports bukanlah olahraga fisik seperti Sepakbola dan yang lainnya. E-sports lebih condong kepada Mind Sports atau olahraga pikiran. Hal yang ditonjolkan yaitu konsentrasi (Concentration), kerjasama tim (Teamwork), pengambilan keputusan yang cepat dan tepat (Good and Fast Decision Making), pemahaman taktik (Tactical Understanding), ketenangan (Calmness), dan yang terakhir adalah mentalitas (Mentality). Semua hal tersebut dibutuhkan jika ingin menjadi pemain yang professional.

Indonesia sendiri punya prestasi di bidang E-Sports, beberapa prestasi yang dicapai adalah, Indonesia pernah menjadi Juara ke-2 kompetisi tahunan Microsoft, Imagine Cup (2014). Selain itu juga ada tim XcN CMStorm dari game CrossFire Indonesia yang menempati juara 6 sedunia dari CrossFire Stars Season 2 1stQuarter (2014) di China, sedangkan pada 2ndQuarter team Indonesia akan diwakili oleh tim Warfare yang akan bertanding 5-7 Desember 2014 di Korea Selatan. Ada juga Indonesia berhasil menjadi Juara 1 dan 3 untuk PointBlank International Championship (2012) yang saat itu pertandingan diselenggarakan di Bandung. Dari Game Counter Strike Online World Championship Indonesia meraih posisi ke 4 di Korea Selatan, serta juara 1 Asian Cyber Games 2013 (CS:GO) oleh team NXL Gaming. Sangat baik bukan prestasi mereka di dunia?

Selain punya sisi baik, tentu saja E-Sports punya sisi buruknya. Sisi buruk E-Sports sendiri tidak berbeda jauh dengan game online. Pertama Tentunya hal ini bisa menambah keadiktifan seorang pemain terhadap game tersebut. Kedua, mungkin akan tumbuh ambisi besar untuk menang didalam game sehingga melupakan tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah. Hal ini sangat memungkinkan karena seseorang sangat ingin menjadi gamer professional sehingga sangat tekun berlatih tapi melupakan tugasnya. Ketiga adalah kemungkinan disebut sebagai orang yang anti sosial atau tidak bisa bergaul karena terlalu sering berada di dunia maya atau di depan komputer. Keempat kemungkinan bahwa orang yang bermain game emosinya menjadi tidak terkontrol, dampak dari kekalahan atau gagalnya player memenangkan sebuah turney (turnamen) bisa membuat stress, frustasi, bahkan depresi sehingga menjadi orang yang lepas kendali dalam hal emosi, hal yang sangat kecil bisa menjadi masalah besar, sehingga sangat tidak disukai orang-orang dan berkaitan dengan faktor ketiga

Untuk menyikapi hal ini perlu adanya kerjasama, tidak hanya antara para gamers dengan orang tua, hal ini juga memungkinkan pemerintah untuk turut bertindak. Seperti yang diketahui bahwa E-Sports sudah diakui secara resmi maka pemerintah bisa membuat peraturan-peraturan sebelum seorang gamers masuk kedalam keanggotaan E-Sports dan menjadi seorang gamers professional.

Game online tidak selalu berdampak buruk, tetapi Game Online selama ini selalu ditonjolkan sisi buruknya saja, tidak pernah ditonjolkan sisi baik seperti yang ada diatas. Seperti contoh salah satu program televisi yang mengatakan membahas kedua sisi justru malah menampilkan keburukan saja, tidak menampilkan kebaikan. Hasilnya? Banyak orang tua yang “Men-cap” game online menjadi perusak moral bangsa. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena nilai kebaikan didalam game tetap ada namun lebih diberikan secara inplisit. Dengan adanya E-Sports maka nilai eksplisit menjadi lebih terlihat, semoga orang tua dapat menyadari hal ini. Cara paling tepat untuk mengurangi dampak buruk yang diberikan adalah mendampingi dan mengimbangi permainan dengan dunia nyata oleh orang tua atau keluarga kepada sang gamers itu sendiri.

Apakah eSport Termasuk Olahraga?

Perdebatan mengenai eSport yang dikategorikan sebagai olahraga atau bukan memang mulai memanas akhir-akhir ini. “Menggunakan istilah ‘sport’ selalu menimbulkan argumen karena banyak orang yang memiliki interpretasi mereka sendiri kepada apa yang dimaksud dengan olahraga. Tapi kemampuan dan dedikasi yang para profesional berikan patut kita hormati,” masih menurut Roberts, seperti yang kami kutip dari The Market for Computer & Video Games (MCV).

Adam Apicella dari Major League Games (MLG) di Amerika Serikat juga menambahkan: “Tujuan kami selalu sama, yaitu mempresentasikan video game sebagai olahraga, bukan berkomentar bahwa bermain video game adalah olahraga. Dengan pemain-pemain kami, fan base yang bergairah di seluruh dunia, saya pikir kesamaan (video game) dengan olahraga tidak terbantahkan lagi.”

“Suatu hari nanti eSport akan dianggap sebagai olahraga. Ketika banyak orang menonton (American) football di televisi atau bertemu di pub untuk merayakan kemenangan timnya, mereka hanya menonton olahraga. Ini tidak ada bedanya dengan eSport,” tambahnya.

Untuk mendukung pernyataan Apicella di atas, kita bisa melihat final kejuaraan dunia Dota 2 yang ditonton oleh 20 juta orang tahun ini. Tahun lalu, pada kejuaraan League of Legends (LoL), ada 27 juta yang menonton finalnya dan 11,2 juta di antaranya menonton secara langsung. Bisa dibilang eSport sudah mulai menjadi maistream.

Seperti yang kita tahu, selain Dota 2 dan LoL yang tergolong multiplayer online battle arena, ada banyak tipe permainan yang tergolong eSport. Ada permainan berkelahi (fighting game), tembak-tembakan first-person shooter (FPS), permainan strategi (RTS atau real-time strategy), sampai permainan olahraga (sports games) yang benar-benar berkaitan langsung dengan olahraga.

Permainan olahraga yang terkenal di dunia dan memiliki kompetisi eSport-nya adalah FIFA Football (dari Electronic Arts Sports) dan NASCAR. Game-game tersebut memiliki kompetisi yang sudah terkenal juga, antara lain Electronic Sports World Cup dan Electronic Sports League.

Belum lagi jika kita sudah keluar konteks melihat game olahraga secara umum, kita bisa menemukan Pro Evolution Soccer, serial NBA 2K, Football Manager, dan lain sebagainya.

Jadi, apakah eSport merupakan olahraga? Definisi eSport memang masih kabur, tapi mungkin saja dalam beberapa waktu ke depan eSport bisa benar-benar menjadi olahraga, terutama dengan rencana organisasi eSport terbesar dunia, The International e-Sports Federation (IeSF), yang ingin bekerja sama dengan organisasi atletik untuk membuat eSport benar-benar sehat.

Kerja sama mereka dengan International Association of Athletics Federations (IAAF) tersebut memiliki proyek yang diberi nama “Athletics for a Better World”. Proyek ini dinilai “akan mengembangkan rencana latihan dan program kesehatan untuk membantu para pemain game profesional dan tingkat rekreasi untuk memiliki performa kesehatan yang tinggi”.

“IeSF ingin membuat eSport dianggap serius sebagai olahraga yang kompetitif,” menurut sebuah pernyataan dari mereka. “Karena selama satu dekade ini eSport telah terlupakan terutama ketika membicarakan para pemain game profesional. Banyak orang yang menyamakan mereka dengan stereotip orang yang malas ketika orang bermain game.”

Kerja sama IeSF dengan IAAF adalah salah satu langkah besar bagi eSport. Tahun lalu, eSport sudah masuk ke dalam TAFISA, The Association for International Sport for All, sebuah badan untuk gerakan olahraga kesehatan masyarakat dunia.

Kenapa eSports Bisa Termasuk Menjadi Olahraga?

Co-host dari FOX News, Soledad O’Brien, mencoba membela eSport dengan mengatakan bahwa game yang kompetitif membutuhkan strategi dan pengerahan fisik yang tinggi juga, meskipun tidak setinggi ketika orang melakukan olahraga sungguhan seperti bermain sepakbola atau bola basket.

“Apapun yang memiliki struktur, model bisnis, hadiah uang, dan level kompetisi yang tergolong tingkat atas, itu semua bisa digolongkan sebagai ‘sport’,” katanya seperti yang kami kutip dari Gamespot.

Pada dasarnya, kata dasar ‘sport’ berasal dari ‘dis-ports’ dari Bahasa Perancis Kuno. Kata tersebut memiliki arti ‘untuk menghibur diri’ atau ‘untuk menyenangkan diri’. Ini juga yang merupakan konsep utama olahraga, yaitu untuk bermain. Berdasarkan pengertian di atas, bermain game bisa saja digolongkan menjadi olahraga.

Jika kita memposisikan perspektif kita setara dengan O’Brien, kita bisa lihat eSport dari kacamata bisnis, organisasi yang menaungi, jumlah penonton, jumlah siaran, cakupan media, sampai uang hadiah yang memang sudah setara, bahkan tak jarang lebih dari olahraga.

Begitu juga perjudian sangat marak di eSport. Perusahaan judi Skybet meluncurkan divisi eSport pada dua bulan yang lalu, mereka mendapatkan para penjudi untuk game LoL, Dota 2, dan Counter-Strike: Global Offensive.

Selain judi, doping juga semakin marak di eSport, seolah tak mau kalah dari olahraga sungguhan. Obat-obatan seperti ritalin, aspirin, dan propranolol menjadi doping yang paling sering ditemukan pada para pemain eSport. Propranolol misalnya, sering digunakan karena efeknya yang bisa membuat mata terus terbuka alias melek.

Hal-hal di atas inilah yang membuat eSport bukan hanya dianggap sebagai olahraga, tetapi juga membuatnya memiliki dampak kepada kebudayaan. Jika tidak ada alasan lain, jumlah uang yang sangat besar mungkin cukup untuk membuat eSport diakui sebagai olahraga, terlepas dari persyaratan fisik dan kesehatan.

Tapi Sebenarnya eSport Bukanlah Olahraga

Bermain-main dengan kata ‘sport’ atau ‘‘olahraga’ memang bisa menjerumuskan perspektif kita untuk memandang eSport. Tapi jika kita lihat pengertian ‘sport’ dari kamus Webster, kata itu memiliki pengertian “sebuah permainan, kompetisi, atau aktivitas yang memerlukan usaha fisik dan kemampuan yang dimainkan berdasarkan aturan, untuk kesenangan dan/atau pekerjaan”.

Sementara pengertian lain mengenai ‘sport’ adalah “segala tipe aktivitas fisik yang orang lakukan untuk tetap sehat atau untuk kesenangan”.

Kemudian jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa menemukan pengertian olahraga sebagai “gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh (seperti sepak bola, berenang, lempar lembing)”.

Presiden ESPN, John Skipper, berkata bahwa eSport bukanlah olahraga, melainkan hanya sebuah kompetisi. Saya sebagai penulis, ditambah dengan pengertian ‘sport’ dan ‘olahraga’ lainnya, cenderung setuju dengan Skipper. Rasanya memang olahraga harus memiliki unsur atletisme, sedangkan eSport tidak.

Ditambah lagi dari sejumlah penelitian, para pemain game yang terlalu banyak bermain dinilai memiliki hubungan sosial yang kurang, serta tingkat depresi, stres, dan kecemasan yang tinggi.

Menurut sebuah artikel di New York Times berjudul “For South Korea, E-Sports Is National Pastime,” kecanduan video game akan membuat anak-anak jauh dari pendidikan. Selain itu, beberapa video game juga mengandung kekerasan, seperti Grand Theft Auto, serial Call of Duty, dan lain-lain, yang bisa mempengaruhi perilaku anak.

Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara tingkat aktivitas anak yang semakin berkurang karena bermain game apalagi melalui gadget mereka, dengan tingkat kekerasan di tingkat anak-anak, dan juga yang tidak kalah parah, tingkat obesitas dan rendahnya angka kesehatan masyarakat.

Saat ini semakin banyak anak-anak yang lebih senang bermain game daripada beraktivitas fisik sungguhan sebagai bentuk paling sederhana dari olahraga. Kita juga bisa melihat ini merupakan dampak dari semakin sedikitnya lapangan atau ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

Hal-hal negatif di atas adalah sangat berkebalikan dengan esensi olahraga, yaitu untuk sehat. Game hanya mengandung esensi ‘untuk menyenangkan diri’ dari olahraga. Inilah kenapa perkembangan eSport memang sangat baik untuk industri game, tetapi tidak baik untuk pemain game dan kesehatan masyarakat.

Jika video game disejajarkan dengan olahraga sepakbola atau basket, maka kita juga bisa memasukkan, misalnya shalat, jalan-jalan di mall, bekerja di lokasi kontruksi bangunan, dan bahkan masturbasi sebagai olahraga juga.

Secara banal, perdebatan ini lebih banyak muncul karena penggunaan nama ‘eSport’ yang memiliki kata ‘sport’ atau ‘olahraga’ di sana. Namun perdebatan yang sesungguhnya muncul bukan dari penamaan, melainkan dari manfaat yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.

Inilah kenapa saya pribadi, yang juga gemar bermain video game, menganggap perkembangan eSport danvideo game harus terus dikontrol. Bagaimanapun, video game tidak memiliki dampak kesehatan yang lebih besar daripada olahraga sungguhan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *